Sabtu, 28 Januari 2012

Terima Kasih

"Terima kasih."
"Thank you".
"Hatur nuhun."
"Xie xie."
Kata yang sering banget kita denger di mana-mana. bahkan dari kecil kita sudah diajarkan oleh orang tua kita untuk mengucap terima kasih kepada orang-orang di sekitar kita bila diberikan sesuatu.


"Ayo bilang apa?"
"Aciiih."


Saya pun begitu. Sejak anak-anak belum bisa bicara pun sudah diperkenalkan dengan ini. Jadi, bila mereka besar nanti, at least mereka bisa menghargai (apapun bentuknya) sesuatu yang diterimanya. walau kasat mata sekali pun.


Syifa juga sudah spontan, tidak hanya kalau diberikan sesuatu. Bahkan, bila saya cium pipinya sebelum tidur pun dia selalu bilang, "Tengkyu Bundaaa...."
Sambil matanya berkedip-kedip dan senyumnya lebaaaar sekali.


Tapi, ada satu teman saya, yang tiba-tiba saya kangeni malam ini, pernah menyatakan ketidaksukaan setiap saya berucap terima kasih padanya kala ia membuat saya senang, bahagia, tersenyum, dan tertawa bersama. "Tolong jangan ucap terima kasih lagi. Saya berikan ini bukan karena terpaksa." Begitu katanya suatu hari.


Ternyata tidak semua konteks "memberi dan menerima" bisa diselesaikan dengan kata terima kasih. Ada saat dimana seseorang yang memberi malah tersinggung jika kita mengucapkan terima kasih terhadap pemberiannya. tapi, banyak juga yang tersinggung lagi kalau kita lupa ucapkan terima kasih jika diberi sesuatu.


Ah, saya jadi bingung.


Terlepas dari tersinggung atau tidannya seseorang, yang jelas saya senang berucap terima kasih. Setidaknya memberikan penghargaan kasat mata terhadap orang itu.


Senin, 20 Maret 2006


Diambil dari sebuah buku berjudul "Cooking with Love" kumpulan resep favorit & kisah-kisah Bunda Inong (Almh), kerja sama We R Mommies Indonesia & Dapur Bunda (milis yang didirikan oleh Bunda Inong).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar