Setelah tiga jam berlalu, saudariku Siti Aminah Wahyudin (selanjutnya penulis akan menyebutnya teh cici), akhirnya menelurkan crochet pertamanya. *kira-kira mau dikasih nama apa yaaa si telor.. hihiiii ^^
TARAAA!! Ini niiihh, crochet pertama t cici
Melihatnya bekerjakeras dan lelenggutan menahan kantuk merupakan ciri kesungguhannya dalam belajar crochet. Terimakasih juga teh, karena mau memberikannya untuk saya *yang sebenernya udah saya minta duluan hehee. It's so meaningful. Kalo boleh meminjam katalimanya spongebob, karena ada cinta disetiap 'rajutannya'.
Dua tahun sudah saya mengenal chrochet, diperkenalkan oleh seorang sahabat, Yusti Septianingsih. Awal perkenalan kami hanya sebatas belajar dasar saja, lalu berjalan masing-masing tanpa adanya komunikasi lagi. Sampai beberapa bulan yang lalu kami mulai intens bertemu kembali hiiiihiiiii. Mulai menjalin hubungan secara serius dan alhamdulillah sudah sampai bisa menghasilkan uang, lumayan deh buat jajan bakso (hari ini buat jajan bakso, besok-besok jajan BB aja ahh ihihiiiiii ).
Sedikit gawat sebetulnya, kalo udah pegang hakken ,saya nyebutnya "pisow", sama benang suka lupa waktu. Kadang-kadang tugas kuliah yang seharusnya lebih menggiurkan buat dikerjain malah harus rela nggunduk dipojokan. Eheheheee
Intinya, thankyou soo much to teh Yusti yang sudah menjembatani saya pada dunia crochet. Terimakasih untuk semua ilmu yang LUAR BIASA bermanfaat ini..
"Terima kasih." "Thank you". "Hatur nuhun." "Xie xie." Kata yang sering banget kita denger di mana-mana. bahkan dari kecil kita sudah diajarkan oleh orang tua kita untuk mengucap terima kasih kepada orang-orang di sekitar kita bila diberikan sesuatu.
"Ayo bilang apa?" "Aciiih."
Saya pun begitu. Sejak anak-anak belum bisa bicara pun sudah diperkenalkan dengan ini. Jadi, bila mereka besar nanti, at least mereka bisa menghargai (apapun bentuknya) sesuatu yang diterimanya. walau kasat mata sekali pun.
Syifa juga sudah spontan, tidak hanya kalau diberikan sesuatu. Bahkan, bila saya cium pipinya sebelum tidur pun dia selalu bilang, "Tengkyu Bundaaa...." Sambil matanya berkedip-kedip dan senyumnya lebaaaar sekali.
Tapi, ada satu teman saya, yang tiba-tiba saya kangeni malam ini, pernah menyatakan ketidaksukaan setiap saya berucap terima kasih padanya kala ia membuat saya senang, bahagia, tersenyum, dan tertawa bersama. "Tolong jangan ucap terima kasih lagi. Saya berikan ini bukan karena terpaksa." Begitu katanya suatu hari.
Ternyata tidak semua konteks "memberi dan menerima" bisa diselesaikan dengan kata terima kasih. Ada saat dimana seseorang yang memberi malah tersinggung jika kita mengucapkan terima kasih terhadap pemberiannya. tapi, banyak juga yang tersinggung lagi kalau kita lupa ucapkan terima kasih jika diberi sesuatu.
Ah, saya jadi bingung.
Terlepas dari tersinggung atau tidannya seseorang, yang jelas saya senang berucap terima kasih. Setidaknya memberikan penghargaan kasat mata terhadap orang itu.
Senin, 20 Maret 2006
Diambil dari sebuah buku berjudul "Cooking with Love" kumpulan resep favorit & kisah-kisah Bunda Inong (Almh), kerja sama We R Mommies Indonesia & Dapur Bunda (milis yang didirikan oleh Bunda Inong).